Bisakah dihentikan sejenak?
Dentang arloji itu
Detik menjadi menit
Menit berganti jam
Jam itu berbaris menjadi hari
Hentikan.. aku tak sanggup
Aku hanya ingin
Pulang ke rengkuhanmu
Bisakah dihentikan sejenak?
Dentang arloji itu
Detik menjadi menit
Menit berganti jam
Jam itu berbaris menjadi hari
Hentikan.. aku tak sanggup
Aku hanya ingin
Pulang ke rengkuhanmu
Cukuplah engkau untuk aku, yang merasa tak ada yang bisa melengkapi separuhku
Cukuplah engkau untuk aku, yang bisa merasa sedihmu walau tanpa diucap
Cukuplah engkau untuk aku, yang belum semekar bunga sepatu itu
Cukuplah engkau untuk aku, yang merasa bahagia karna kau ada disini..
Cukuplah engkau.. untuk aku.
Kau lihat aku mengais-ais di sebuah pojok kecil
Pojok kecil tempat yang bernama sanubarimu
Disitu aku menangis, menjerit, berteriak
Tuturku sudah tak sama lagi
Seperti aku yang dahulu, ya, waktu menggantiku.
Aku lihat engkau disana berdiri
Mematung tanpa tanya di bawah temaram lampu tinggi
Tatapanmu kosong, sunyi, sepi menjalar
Sikapmu bukan yang sama lagi
Seperti kamu yang dahulu, ya, waktu menggantimu.
Di depan kita hanya ada gelap yang menanti
Kulihat awan-awan itu menangis pula menukar tempat
Lampu tinggi itu hampir padam
Bayangmu hampir tak tampak
Dan mataku setengah buta, terlalu banyak air yang mengalir dari sana..
Tapi di jalan belakang kita, lihatlah sayangku.....
Dua sejoli asyik berkejaran
Dibawah sinar mentari yang bersinar terang sekali,
Mereka tertawa-tawa bercakap saling berpelukan
Tak berapa lama mereka berjalan bergandeng tangan
Airmataku yang jatuh, diam-diam..
Merahasiakan titik rindunya
Menjanjikan sebuah kata
Biarlah luka,
Akan kubawa mati
Makin lama, aku merasakan jarak mulai mengambil alih.
Iya, aku merasa, makin lama, jalan kita tak lagi beriringan. Kamu dengan duniamu yang semakin tidak aku ketahui dan aku dengan duniaku yang semakin tidak ingin kamu pedulikan.
Aku bertanya-tanya, apa mungkin karena semakin lama tali ini terikat, kesenjangan akan makin terasa?
Atau ini karena aku yang tak lagi sama?
Ataukah mungkin kamu?
Jawabannya juga masih saja alpa.
Semakin lama kamu tidak mengerti apa yang aku katakan. Apa yang aku lakukan.
Apa yang aku rasakan.
Makin lama, kurasa hatimu telah beku.
Ntah itu terbekukan sang waktu,
Atau kosong yang menjaring kita,
Atau karena cinta ini mulai menipis.
Oh Tuhan, kosong ini memakan aku.
Lisanku yang separuh bisu ini,
mungkin hanya bisa merapal kata.
Kata kecil yang tak akan kau dengar
..atau malah mungkin akan kau benci
Aku hanya masih teringat
Jemari yang saling bertaut
Saat hujan bulan november
Masih bisa aku cecap
Hembus nafasmu di udara
Bisa juga aku rasa
Hangat kulitmu dalam diri
Ada sesuatu yang terselip,
ada yang mengganjal
Dalam segala tentangmu
Entah apa itu, masih tak tercari
Masih disembunyikan. Menunggu
tanganku yang masih mencari,
sebuah tangan lain untuk digenggam.
Semoga tangan kita masih berjodoh untuk bertemu..
Semoga saja.
Aku tidak tahu, mana yg lebih menyakitkan. Mencintai tanpa balasan atau menunggu tanpa alasan. Yang pasti, dua-duanya sedang terjadi, di dalam kepalaku. Dan juga hatiku.
Kau tahu, aku memang selalu mencintaimu. Kau juga tahu bahwa kau selalu punya aku disampingmu, tapi kau lupa daratan, sayang. Membuatmu menjadi seenaknya sendiri. Padahal aku sedang berdiri di atas batasku. Aku hampir mati kelelahan disini.
Tapi, kau juga tahu, sebanyak apapun juga kau menyuruhku pergi, aku memang masih disini. Aku takkan pergi. Aku tak akan pergi, karena aku sudah berhenti mencari. Karena aku sudah menemukannya. Ada dalam dirimu. Memang tidak bisa dijelaskan kenapa dan bagaimana, aku sendiri tidak tahu. Tapi kau adalah satu-satunya untukku.. entah kau sadar atau tidak. Entah kau merasa senang atau malah membenciku. Aku tak peduli. Biarlah air ini berusaha mengikis batu itu perlahan-lahan.