Saturday, February 20, 2016
surat terakhir untuk yang disana
Thursday, July 23, 2015
#21
Tiada kabut musim kemarau yang menyelimuti alis pagimu.
Juli di rambutmu masih basah, masih menyimpan tetes dan rerumputan yang ditinggalkan hujan.
Dan setiap kutatap matamu lewat panorama di jendela, aku menemukan lembah nan hijau, puspa warna, kicau prenjak menginjak tuts-tuts piano di pucuk-pucuk cemara, dan luruh gerimis.
Kulihat seikat pelangi tumbuh di bola matamu.
Dan hujan menyembunyikan semua jejak.
Kuberteduh menatapmu memperhatikan bulir hujan menetes ke dalam puisi.
Aku terhanyut bersama kesunyian yang diselundupkan hujan
yang dibiarkan mengambang dalam genangan ilusi.
Dan hujan meninggalkan hening semua denting.
Bening matamu selalu kuingat
ia adalah kolam sajak seluruh kata yang menyembul dalam bahasa hatiku.
(from vanjoss.blogspot.com)
Tuesday, June 16, 2015
#20
Dalam beberapa saat saya merasa ini tidak adil.
Saya juga merasa kesal, tapi ia tidak pernah tahu. Saya juga sering merasa sakit hati. Dikecewakan. Tapi apa dia tahu? Tidak, bahkan dia sendiri tidak tahu, bahkan dia sendiri mengabaikan perasaanku. Itu yang menyakitkanku.. yang membuatku seringkali membuatnya 'marah' karena ia sendiri mengabaikan perasaanku.
Aku bukan robot.. Aku juga manusia.
Thursday, June 4, 2015
#19
Is it you, or is it just me arguing with myself..?
I've feel like, I'm lonelier than before.
I remember that day you were happy talked to me
Now it seems like you're not even want to reply that
I know you're tired
But so do I.
I'm way more tired than you
You don't think that you're the only one that have mood-swing
I have that too
But I do know I'm gonna be your water
For your stoned heart :)
Slowly but sure, dear
I love you way more than everything
Tuesday, June 2, 2015
#18
Perasaan ini membuncah, membuat mataku sembap karena terus-terusan berair. Aku mengingat-ingat memori lama, saat-saat menyenangkan itu. Saat aku masih hafal betul dengan sifat dan kebiasaanmu. Dengan tawa itu. Dengan senyum itu. Dengan hangat tanganmu yang mendekapku. Saat wajahmu belum sekusut engkau hari ini. Saat kita masih berbarengan mendayung di perahu yang sama.. menyenangkan rasanya. Tidak, aku sedih bukan karena saat-saat buruk kita. Aku sedih karena waktu yang menyenangkan itu terenggutkan dari kita masing-masing, karena hal itu takkan terulang lagi, karena segalanya takkan menjadi sama. Segalanya akan berubah.. meski belum kulihat ke arah manakah perubahan itu pergi. Yang aku tahu sekarang, perahu yang muat untuk berdua ini, hanya diriku sendiri yang mengisi.
Tuesday, May 26, 2015
#17
Bisakah dihentikan sejenak?
Dentang arloji itu
Detik menjadi menit
Menit berganti jam
Jam itu berbaris menjadi hari
Hentikan.. aku tak sanggup
Aku hanya ingin
Pulang ke rengkuhanmu
#16
Cukuplah engkau untuk aku, yang merasa tak ada yang bisa melengkapi separuhku
Cukuplah engkau untuk aku, yang bisa merasa sedihmu walau tanpa diucap
Cukuplah engkau untuk aku, yang belum semekar bunga sepatu itu
Cukuplah engkau untuk aku, yang merasa bahagia karna kau ada disini..
Cukuplah engkau.. untuk aku.